Era
Pra Sejarah tanah Lombok tidak jelas karena sampai saat ini belum ada data-data
dari para ahli serta bukti yang dapat menunjang tentang masa pra sejarah tanah
Lombok.Suku Sasak temasuk dalam ras tipe melayu yang konon telah tinggal di
Lombok selama 2.000 tahun yang lalu dan diperkirakan telah menduduki daerah
pesisir pantai sejak 4.000 tahun yang lalu, dengan demikian perdagangn antar
pulau sudah aktif terjadi sejak zaman tesebut dan bersamaan dengan itu saling
mempengaruhi antarbudaya juga telah menyebar.
Kata sasak
sendiri diambil dari kata sak-sak yang artinya sampan, dalam kitab Negara
Kertagama kata sasak menjadi satu dengan Pulau Lombok. Yakni Lombok mirah adhi. Dalam tradisi lisan
warga setempat diyakini kata “sa’-saq” memiliki
arti satu, dan Lombok yang menpunyai tulisan Lomboq yang memiliki arti lurus. Sehingga jika disatukan kata lomboq dan ”sa’-saq” memiliki arti
sasuatu yang lurus. Dalam salah satu kitab yang memuat tentang kekuasaan dan
kepemerintahan kerajaan Majapahit,gubanan Mpu Prapacanca. Kata “lombok” dalam
bahasa kawi berarti lurus atau jujur, “mirah” berarti permata,
"sasak" berarti kenyataan dan "adi" artinya yang baik atau
yang utama. Maka Lombok Mirah Sasak Adi berarti kejujuran adalah permata
kenyataan yang baik atau utama.
Warga Suku
Sasak mayoritas islam, namun demikian dalam kenyataanya pengaruh Islam juga
berakulturasi dengan kepercayaan lokal sehingga terbentuk aliran seperti Wetu Telu, jika dianalogikan seperti abangan di
jawa. Namun hanya 1% saja warga yang
melakukan praktek agama seperti itu.
Desa Sasak
paling kuno adalah Desa Bayan,
berada dekat kaki Gunung Rinjani yang merupakan kubu Wektu Telu. Akan tetapi
yang paling sering dikunjungi wisatawan adalah Desa Sade dan Desa Rembitan, di dekat Mataram.
Masyarakat desa tersebut memilih mengabaikan modernisai dunia luar dan lebih
memilih untuk terus melestarikan tradisi lama mereka.
Sebagian
besar penduduk suku sasak adalah bertani, sementara kaum wanita adalah menenun
memproduksi kain ikat yang indah.
Rumah di
Sade dibangun berbaris dimana yang paling menonjol dan khas Lombok adalah
lumbung padi yang didirikan di atas empat tumpukan kayu dengan atap berbentuk
topi terbuat dari alang-alang
atau rumput gajah. Padi dimasukkan melalui jendela terbuka. Beruga atau ruang upacara
berdiri di atas enam pilar dan atapnya juga terbuat dari rumput gajah,
memberikan suasana sejuk ketika cuaca terik dan hangat pada malam hari yang
dingin. Rumah adatnya dibagi menjadi 3 bagian, yaitu dapur, kamar tidur dan
ruang tamu.
Adat suku
sasak dapat kita jumpai pada saat resepsi dimana calon pengantin wanita
dilarikan ke salah satu anggota keluarga dari pihak laki-laki yang biasa
disebut menarik atau selarian. Sehari
setelah calon pengantin wanita dilarikan, dari pihak calon pengantin pria
mendatangi kediaman calon pengantin wanita untuk memberitahukan bahwa anak
perempuan mereka akan segera dinikahkan.
Tari
dan drama di Lombok terkait dengan identitas budaya. Meskipun budaya Sasak
dipengaruhi Bali dan Jawa tetapi perpaduan budaya di Lombok merupakan hal yang
unik dan berbeda. Menarik untuk Anda amati.
Tarian
selama upacara salah satunya adalah kedang
belek dimana yang paling populer. Dimainkan dua musisi menggunakan
drum besar saat berhadapan serta batek
baris yang menampilkan prosesi militer yang biasanya diadakan di
kota Lingsar. Tarian ini mengenakan kostum tentara Hindia Belanda dengan
senapan kayu.
Di
Bayan, setahun sekali ada perayaan masjid jerami kuno yang disebut Bayan Beleq.
Acara
lain yang layak ditonton adalah Peresehan,
tradisi setempat berupa perkelahian antara dua pria menggunakan tongkat rotan
panjang dan perisai persegi kecil yang terbuat dari kulit sapi. Dahulu kegiatan
ini merupakan peperangan sungguhan namun saat ini hanya dilakukan untuk
menghibur wisatawan.
Setiap
tahun, sekitar bulan Februari,diadakan perayaan Bau
Nyale diadakan dengan munculnya cacing laut di sepanjang
Pantai Lombok yang diyakini membawa keberuntungan dan kemakmuran.
sumber : http://www.indonesia.travel


Tidak ada komentar:
Posting Komentar