Minggu, 30 Maret 2014

Demokrasi di Indonesia mau dibawa kemana ?

FENOMENA DEMOKRASI INDONESIA

A.      Pembuka

Berbicara mengenai perjalanan demokrasi di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pelaksanaan pasang surut demokrasi itu sendiri. Bangsa Indonesia dilihat dari sejarahnya pernah menerapkan 3 model demokrasi, yaitu demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, dan demokrasi pancasila. Setiap fase mempunyai karakteristik yang berbeda-beda dari setiap pelaksanaannya.

Demokrasi yang dikenal sekarang ini dipelopori oleh organisasi-organisasi modern pada masa pergerakan nasional sebagai wacana penyadaran. Diantara organisasi modern tersebut, misalnya Budi Utomo (BU), Sarekat Islamn dan Perserikatan Nasional Indonesia.

Gerakan nasionalis Indonesia dengan cepat meningkat dalam tahun 1927 dengan didirikannya Perserikatan Nasional Indonesia (PNI). Para pemimpin PNI terdiri dari kaum muda yang memperoleh pendidikan di Belanda pada awal tahun 1920-an. Sewaktu di Belanda mereka menggabungkan diri dengan organisasi mahasiswa, yaitu Perhimpunan Indonesia (PI). Organisasi pemuda pada saat itu sangat terpengaruh oleh PNI.

B.       Pembahasan

Fenomena Demokrasi Indonesia

Suryadharma Ali Musa, menyatakan sistem politik dan demokrasi di Indonesia cendrung berbiaya tinggi dan transaksional yang melahirkan pemerintahan tidak efisien.

Sistem politik dan demokrasi berbiaya tinggi juga dapat berimbas pada postur anggaran yang lebih banyak dikemas sebagai bantuan sosial, padahal hanya kamuflase untuk menutupi biaya politik yang telah dikeluarkan sebelumnya. Menurutnya, katanya, banyak daerah yang sebagian besar atau 80% anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) hanya untuk membayar gaji pegawai, sehingga tidak dapat melakukan pembangunan apapun kembali.

“Cobalah mulai dari sekarang, sistem politik transaksional ini disudahi (dihentikan) agar ke depan tidak sampai melahirkan pemerintahan yang cenderung korupsi,” katanya.  Salah satu sumber inefisiensi penyelenggaraan bernegara adalah pemilu yang sampai berkali-kali dilaksanakan, dengan biaya logistik, distribusi, pengawasan dan perhitungan, serta lain-lain yang sangat mahal.

Berbicara tentang pemilu, kita dapat melihat bagaimana meriahnya pesta demokrasi yang katanya ialah pesta rakyat, apakah itu benar pesta rakyat ?, mungkin untuk saat ini kita belum dapat merasakan bahwa itu ialah pesta rakyat, dengan belum meratanya rakyat Indonesia yang dapat menggunakan hak pilihnya secara langsung, atau dengan pilihan sebagai golput.

Untuk rakyat yang memilih untuk golput mungkin salah satu alasan mereka ialah, terlalu banyaknya Partai Politik (Parpol) yang menjadi ajang tanding memperebutkan kursi Presiden atau kursi dewan legislatif, terlalu banyaknya janji yang diberikan ketika berkampanye.

Apakah masih bisa dikatakan demokrasi jika untuk pesta demokrasi saja hanya segelintir masyarakat yang dapat memilih atau yang dapat menggunakan hak suaranya, malah dapat dikatakan hanya yang memiliki jabatan atau pendidikan tinggi saja yang dapat merasakannya.

Jika kita lihat diatas maka kita akan bertanya, mau dibawa kemana demokrasi yang ada di Indonesia, dengan rakyatnya yang belum sepenuhnya merasakan demokrasi ini, jadi demokrasi di Indonesia saat ini adalah sebuah barang yang mahal, lalu apa solusinya ? mungkin salah satu solusinya ialah kita mengubah sistem, bagaimanapun demokrasi adalah buatan pikiran manusia yang sifatnya tidak mutlak, namun bila kita mau menggatinya janganlah mengaplikasikan dengan sistem asing, seperti komunis, militerisme, sosialis, khalifah sistem-sistem ini sangat cocok untuk diaplikasikan ke negri yang sangat ber-aneka ragam suku, kultur sosial dan agama, dimana pluralisme wajib di jalankan.

C.      Penutup

Jika kita melihat penuturan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa demokrasi di Indonesia sangatlah bertele-tele sehingga mengeluarkan dana lebih yang jumlahnya sangat fantastis, dan tidak semua rakyatnya dapat merasakan demokrasi ini.


Nama : Wulan Vembrianingrum
Kls : 2EA06
Npm : 17212769

Tidak ada komentar:

Posting Komentar